Menjadi Kesaksian di tengah keluarga

Dua minggu lagi menjelang Chinese New Year 2018, apakah kamu akan pulang ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarga? Pernahkah kamu merasa sedikit bingung bagaimana kita sebagai anak Tuhan bersikap saat berkumpul bersama keluarga dan ikut dalam tradisi Chinese New Year ini?

Tim VOICE kali ini punya kesempatan untuk ngobrol singkat dari Saudari kita, yang akrab dengan panggilan Ci Angel, dan sekarang dia tengah melayani di Exodus Jakarta dengan seisi keluarganya. Sebagai salah satu orang yang merayakan Chinese New Year, Angel sering mengalami banyak hal setelah dia kenal dengan Tuhan dan merayakan CNY bersama keluarga. Ayo kita simak wawancara singkat dengan Ci Angel ini!

 

18740573_10212713013321020_5510391354997054545_n

Q1: Hai Ci Angel! Sejak kapan Ci Angel sudah percaya Tuhan?

A1: Aku mulai ke Gereja sungguh-sungguh dan mengenal siapa itu Tuhan, sekitar Januari tahun 2000, lalu dibaptis akhir Maret tahun 2000 🙂

Q2: Boleh cerita singkat gak mengenai proses Ci Angel waktu percaya Tuhan? Dan bagaimana reaksi keluarga waktu Ci Angel dibaptis?

A2: Saat itu pertama kali aku ke POKI Hsinchu. Aku mendengar Ketua CG bercerita bahwa Tuhan adalah Bapa dan Dia mendengarkan setiap doa kita.  Sepertinya simple, tapi entah kenapa aku sangat terharu saat itu. Tapi aku masih berpikir yah pelan-pelan saja, tapi akhirnya aku tergerak untuk ikut katekisasi, dan aku sangat merasa terbantu. Lalu aku mulai belajar berdoa, beriman, komitmen dll. Waktu itu keluargaku agak kaget (hehe) karena aku orang pertama yang dibaptis secara Kristen.

Q3: Sebentar lagi kan kebanyakan dari teman-teman akan pulang Indonesia untuk berkumpul dengan keluarga dan merayakan Chinese New Year atau Imlek. Dari dulu apa sih yang menjadi tantangan Ci Angel kalau pulang berkumpul saat Imlek bersama keluarga?

A3: Aku ingat banget pertama kali pulang, biasanya tantangan yang paling besar ada 3, yaitu makan makanan Imlek yang kebanyakan sudah disembahyangkan ; Pergi ke rumah Paman dan diminta untuk sembahyang Nenek yang sudah meninggal; Hari Minggu harus ke Gereja.

 

Q4: Untuk menghindari pertengkaran dan perbedaan pendapat dengan keluarga, apa saja tips atau cara “cerdik” untuk menghadapi semua tantangan itu?

A4: Ada beberapa tips penting yang boleh dipraktikkan :

  1. Saat pulang Imlek, jangan hanya sibuk dengan teman. Tapi justru utamakan untuk ambil waktu dengan keluarga, bahkan quality time dengan setiap anggota keluarga inti.
  2. Tetaplah berkomitmen untuk beribadah kepada Tuhan. Dulu karena aku percaya Tuhan di Taiwan, aku tidak punya kebiasaan untuk ke gereja di Palembang. Tapi saat itulah komitmen kita diuji. Tetaplah pergi beribadah, karena itulah salah satu kesaksianmu.
  3. Waktu udah dekat Imlek, biasanya aku ambil waktu untuk ngomong Mama soal makanan persembahan dan jangan mulai dengan kata “makanan itu…“. Misalnya Mama, makanan itu makanannya setan, makanan itu ga kudus, makanan itu penuh dengan roh jahat. Kalau makan makanan itu nanti Yesus ga senang dll. Mereka yang belum percaya pasti sulit untuk mengerti. Boleh mulai pembicaraan dengan dengan “Saya… “. Misalnya Mama, aku sudah dibaptis dalam Kristen, boleh ya Ma aku ga makanan persembahan?. Mungkin Mama akan bertanya kenapa? Jangan menyalahkan makanan tersebut karena makanan itu netral, tidak salah, tetapi jawablah dari sudut iman orang yang memakannya. Kita bisa menjelaskan seperti, Karena aku waktu di gereja ada berjanji untuk tidak lagi makan makanan persembahan (sembahyang). Tapi thank you ya mama sudah siapin semuanya, semuanya makanan itu enak-enak, tapi boleh ya ma untuk misahin yang mana sudah disembahyang dan belum. Saat memasuki tahun ketiga aku percaya Tuhan, Mamaku tanpa bertanya lagi kepadaku, dia langsung memisahkan makanan yang tidak dipersembahkan untuk aku. 🙂

12733540_10208392047619578_9022063351526492334_n

Q5: Selain itu, sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus agar semua dari kita bisa mengabarkan Injil, bagaimana cara ampuh untuk mengabarkan Injil terutama ke keluarga kita yang masih belum percaya?

A5: Selama di Taiwan, karena jauh dari keluarga, aku jarang bisa benar-benar tau apa yang terjadi di dalam keluargaku, dan memang terkadang itu jadi alasan untuk kita. Tetapi aku merasa cara paling ampuh untuk mengabarkan Injil kepada keluarga adalah tunjukkan bahwa engkau perduli kepada mereka. Jangan karena long distance, hati kita dengan keluarga juga menjadi jauh.

Q6: Kejadian apa yang berkesan untuk Ci Angel saat berkumpul bersama keluarga saat Imlek?

A6 : Aku ingat ada suatu saat aku membeli Alkitab untuk ciciku dan adikku. Tiap malam aku rada maksa, mengajak mereka buka Amsal perpasal, dan meminta mereka untuk sharing apa yang mereka dapatkan, lalu aku ajak doa sama-sama. Dan aku melihat bahwa Tuhan itu sungguh baik. Dua tahun kemudian ciciku dibaptis dan delapan tahun kemudian adikku dibaptis. 🙂

Q7: Apakah ada pesan khusus untuk para pembaca VOICE yang juga akan pulang ke Indonesia dan bertemu keluarga dan merayakan Imlek bersama keluarga mereka?

A7 : Really, set the quality time with family first during holiday, baru diisi dengan hangout bersama teman-teman. Ambil waktu untuk berdoa dengan mereka dan selama liburan jangan lupa untuk tetap beribadah!

Jiayou dan Happy Chinese New Year

12715714_10208392048179592_2439043212593647118_n

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: