Rahasia Mengalami Penyertaan Tuhan

 

Juni 2011 sampai dengan November 2017, dalam kurun waktu kurang dari enam setengah tahun, saya, John, dan istri saya, Angel, dari yang masing-masing berstatuskan single menjadi suami dan istri, dan dikaruniakan tiga orang anak (Joshua, Joyce dan Joseph); Dari yang pekerjaan sekuler lalu menjadi misionaris; Dari yang awalnya berdomisili di Taiwan akhirnya pindah ke Indonesia.

Dalam jangka waktu yang tidak juga lama ataupun pendek, terdapat begitu banyak cerita yang tidak dapat diceritakan dalam waktu yang singkat. Berkat-berkat luar biasa yang saya rasa sudah tidak dapat saya hitung, seperti firman-Nya dalam 2 Tesalonika 5:16-18: Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Kami mengucap syukur, dua tahun tinggal di Indonesia, Tuhan begitu memberkati kami.

“Bersukacitalah Senantiasa”

Di waktu 6 tahun ini, pendapatan kami berkurang karena awalnya kami bekerja di dunia sekuler lalu mengundurkan diri dan masuk sekolah teologia. Pengeluaran kami juga bertambah karena awalnya kami hanya berdua lalu menjadi berlima. Tantangan juga semakin banyak karena memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup kami, kami membawa tiga balita kami meninggalkan Taiwan pindah ke Indonesia untuk melayani di Exodus Jakarta.

Di mata manusia pada umumnya tentu semua hal ini tidak dapat membuat kami lebih bersukacita. Tapi dengan terus berjalan dalam pimpinan Tuhan, kami sungguh-sungguh mengalami apa yang namanya sukacita yang penuh di dalam Tuhan. Sekalipun hidup penuh dengan badai cobaan, Tuhan yang mengaruniakan kepada kami damai sejahtera di dalam setiap cobaan.

1467161419983

“Tetaplah berdoa”

Setelah saya kilas balik, bagaimana kami dapat melewati semua tantangan itu dengan damai sejahtera dan sukacita? Saya dan istri bersehati menjawab, “Karena kami tetap berdoa, menyerahkan semuanya kepada Tuhan.”

Dalam beberapa tahun ini, pertengkaran kami pun tidak dapat dihindari, mendidik anak pun tidak mudah, apalagi ketika pindah ke Indonesia, anak-anak pernah sakit berat sampai-sampai anak ketiga kami harus dirawat inap di ICU sebuah rumah sakit. Hidup yang penuh tantangan ini membuat kami sulit untuk bernafas lega. Namun Tuhan selalu mengingatkan kami, suami istri, untuk berdoa, seringkali ketika berdoa kami masih bertengkar, kami berbaikan malah setelah berdoa. Tuhan juga menuntun kami untuk setiap hari berdoa bergandengan tangan dengan tiga orang anak kami, menyatakan pergumulan hati kami di dalam doa. Anak-anak pun jadi mulai inisiatif untuk berdoa untuk kami, orang tuanya, juga berdoa bagi orang-orang yang perlu didoakan. Karena ‘tetaplah berdoa’, Tuhan sendiri yang menuntun kami berlima untuk melewati tantangan demi tantangan.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal”

Sekarang ini, kami telah menikah untuk 2000 sekian hari dan sungguh frase ‘mengucap syukurlah dalam segala hal’ itu begitu nyata. Membangun sebuah pernikahan yang bahagia, bukan hal yang semudah dongeng ceritakan. Pahit dan manisnya benar-benar menggambarkan ‘rasa’ dari keluarga kami,  Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.”Filipi 4:11-12

Firman ini benar-benar menjadi rahasia kami untuk mengucap syukur dalam segala hal. Setiap kali kami bersyukur, mulut kami pasti tidak dapat mengeluh. Setiap kali kami mulai membuka mulut untuk berdoa, kami dibawa masuk kembali kepada kehendak-Nya. Allah yang setia membuat kami mengalami apa yang tertulis di dalam Yohanes 1:16, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;”. Inilah yang mendatangkan ucapan syukur dari dalam hati kami.

Dalam segala musim kehidupan, semoga anda juga mengalami kasih karunia yang demikian.

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

20160515_132318

Kesaksian oleh John Wu & Family (Exodus Jakarta)
Diterjemahkan oleh Widia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: