Komunikasi = Mengasihi

Trust-is-a-Must-Why-Trust-is-Important-in-a-Relationship

Beberapa waktu yang lalu diadakan sebuah seminar tentang cara berkomunikasi dari hati ke hati antara suami dan istri. Saya pribadi yang belum menikah pun jadi belajar juga bagaimana sebaiknya kita berkomunikasi dengan pasangan kita kelak.

Komunikasi itu mendekatkan, bukan menjauhkan
Komunikasi itu dua arah. Dua pribadi yang berbeda tidak dapat saling mengerti jika tidak ada komunikasi di antara mereka. Apalagi semakin dua orang itu saling mendekat, perbedaan pendapat tidak mungkin dapat dihindari. Jenis kelamin saja sudah berbeda, apalagi sifat, cara pikir, kebiasaan dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, penting untuk kita belajar mengutarakan apa yang kita rasakan. Ya, benar! Apa yang kita rasakan tidak kalah penting dengan apa yang kita pikirkan. Sering kali kita memendam perasaan kita, dan hanya berani mengutarakan apa yang kita pikirkan. Maka sering terdengar, “Pasanganku tidak pernah mengerti aku!”

Saya percaya, semua pasangan tidak ingin hubungan yang seperti ini. Yang awalnya manis-manis tapi malah saling melukai pada akhirnya hanya karena kesalah-pahaman yang sebenarnya bisa diselesaikan. Kita perlu untuk terus belajar melihat waktu yang tepat dalam mengangkat topik pembahasan. Misalnya sewaktu kita sedang berargumen, sebaiknya bukan di saat kita sedang emosi-emosinya. Karena justru yang kata-kata yang keluar bisa dipastikan adalah kata-kata yang dapat saling melukai.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,
dan juga lambat untuk marah;”
Yakobus 1:19

Dengan demikian kita pun belajar mempraktekkan buah roh yaitu pengendalian diri. Tidak mudah yah… Namun begitulah seharusnya sebuah cara berkomunikasi yang sehat! Saat ingin sekali berargumen, alangkah baiknya kita menahan diri sedikit. Ketika sudah lebih lega, mulailah dengan perlahan, bisa dengan memberikan pujian terhadap pasangan kita baru kemudian dilanjutkan kepada inti permasalahan.

Misalnya:
“Bagaimana kabarmu hari ini?”
“Terima kasih atas ide-ide yang kamu berikan kali lalu. Namun, sepertinya ada beberapa poin yang aku kurang setuju, berikut alasanku…”

Jelaskan kenapa kita merasa ingin berargumen, apa yang kita rasakan. Kecewa? Sedih? Marah? Tetaplah dengan kepala yang dingin, hati yang lembut dan perkataan yang sopan dan halus. Karena bagaimana pun juga, sekalipun dia adalah orang yang terdekat, kita harus tetap respect dengan keberadaan dia, bukan? Saling menyadari bahwa pasangan kita juga pribadi yang perlu dihormati perasaan dan cara pikirnya. Tidak ada orang yang suka diperlakukan sembarangan. Jangan serang orangnya, tapi seranglah pendapatnya!

Dan berikan juga solusi kepada pasangan, apa yang kita harapkan dan kita tidak harapkan dari responnya jika sampai hal yang sama terjadi lagi. Jangan kita mengekspektasi bahwa pasangan kita mengerti semuanya tentang kita tanpa kita harus mengatakannya. Percayalah itu kecil kemungkinannya karena dia memang bukan Tuhan! Hanya Tuhan yang paling mengerti apa yang kita rasakan dan inginkan. Maka penting sekali untuk kita membuka diri, belajar untuk memberi diri kita dimengerti oleh pasangan kita. Niscaya semakin sering kita terbuka dalam berkomunikasi, kita akan semakin kompak.

Berargumen dengan pintar
Pastikan setiap kali kita berkomunikasi terutama ketika berargumen, kita bukan sedang menjatuhkan pasangan kita. Ingatlah bahwa ketika dalam membangun sebuah hubungan yang intim, tujuannya bukanlah siapa benar dan siapa salah, karena sebagai pasangan, kita seharusnya berdiri di kapal yang sama. Tujuan komunikasinya sendiri haruslah dengan dasar bahwa kita ingin bersama-sama menyepakati satu hal. Mainkan argumen dengan pintar; Saling menambahkan nilai-nilai kebenaran (adding the right value).

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan
dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.”

1 Korintus 9:26

Jadi jangan berargumen kosong, karena hanya akan membuang waktu dan tenaga!

Menjaga komitmen
Yang menjaga cinta kasih di antara pasangan, selain komunikasi adalah komitmen. Ingatkan diri kita mengapa kita memilih pasangan kita! Danny Silk, dalam bukunya yang berjudul “Keep Your Love On”, mengatakan kata ‘memilih’ itu yang menjadi kata kunci dari kelangsungan hubungan kita. Karena dengan kita ‘memilih’, artinya kita berani mengambil tanggung jawab sepenuhnya atas pilihan kita. Ambil waktu untuk mengingat kembali masa-masa manis dalam hubungan kita, semua kelebihan-kelebihan pasangan kita dan bagaimana kita telah bersama-sama melewati masa-masa sulit dalam perjalanan hubungan kita. Jangan mudah menyerah dalam berkomunikasi!

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
Amsal 27:17

Tuhan sendiri yang mengijinkan kita saling mengasah, agar hati kita bukan menjadi hati yang degil tapi tetap menjadi hati yang lembut. Saling mempraktekkan kasih yang tanpa syarat dengan pasangan kita, seperti Tuhan dengan cara yang demikian juga mengasihi kita.

“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Matius 22:39

Mari teruslah berkomunikasi, agar kasih itu terus mengalir di antara kita. Tuhan Yesus memberkati!

relationships-are-about-two-people

Penulis: Widia Teja

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: