Overcomer Testimony: Deal with Ourselves

Halo semuanya, nama saya Meiliana, biasa dipanggil dengan nama kecil: Meme. Saya bisa dikatakan sebagai anak yang lahir diluar prediksi ini karena saya merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara dengan selisih umur yang lumayan jauh dari saudara-saudara saya. Tumbuh di keluarga yang tidak percaya dengan Tuhan (bahkan ada kecenderungan anti dengan kekristenan), tidak menyukai, bahkan membenci orang Kristen. Namun uniknya, saya disekolahkan di sekolah Kristen sejak kecil sehingga saya mengenal tokoh-tokoh Alkitab dan lumayan mengerti kejadian-kejadian yang diceritakan dalam Alkitab. Namun hanya berhenti sampai “mengetahui”, tidak ada kesan yang mendalam.

Waktu kuliah S1 menjadi titik awal saya mengenal Tuhan. Saat itu, saya diselamatkan karena mendengar Injil tentang kasih karunia, Grace. Ketika itu, teman baik saya sedang mengalami kasih mula-mula dari Tuhan dimana sebelumnya dia ke gereja hanya sebagai rutinitas belaka, namun ketika dia mengalami turning point dalam imannya, setiap harinya dia membagikan apa saja yang dia alami dengan Tuhan dan bagaimana cara pandanganya diubahkan oleh Tuhan. Dia banyak sharing tentang kasih karunia, bagaimana kasih karunia Tuhan diberikan tanpa kita perlu melakukan syarat-syarat tertentu seperti yang tertulis di Perjanjian Lama ketika manusia masih hidup di bawah hukum Taurat. Manusia tidak akan pernah bisa menjadi terlalu baik atau sempurna dan kita tidak bisa lepas dari jerat dosa dengan kekuatan kita sendiri. Lantas dengan keadaan seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Tetapi karena Allah begitu mengasihi kita, sehingga Dia yang terlebih dahulu berinisiatif berdamai dengan kita, manusia berdosa melalui Yesus, anak-Nya dimana kasih dan perdamaian ini diberikan tanpa meminta balasan. Sekarang pertanyaannya, apakah kita mau menerima Dia?

Kata-kata saya di paragraf sebelumnya mungkin sudah sering kita dengar, namun waktu itu, kebenaran ini lah yang benar-benar menjadi titik balik buat saya. Kemudian saya mulai membaca Alkitab secara diam-diam ketika semua orang rumah sudah tertidur, tanpa sepengetahuan orang tua. Pernah sekali mama menanyakan kenapa sudah larut malam belum tidur, saya terpaksa berbohong dengan mengatakan sedang membaca buku dimana di saat yang bersamaan, saya menyembunyikan Alkitab saya di bawah lipatan kaki. Saya semakin takut akan ketahuan dan sejak itu akhirnya saya membaca Alkitab dengan kondisi lampu dimatikan dan menggunakan senter telepon genggam. Namun dari pembacaan Alkitab inilah saya merasa apa yang dikatakan dalam Firman Tuhan sangat relevan dengan hal yang saya alami sehari-hari. Saya semakin takjub dengan Firman Tuhan, ada banyak sekali pemikiran baru yang dibukakan Tuhan, dan merasa hidup saya jadi lebih bermakna. Namun pembacaan Alkitab ini masih diam-diam saya lakukan dan saya juga tidak berani pergi ke gereja.

Singkat cerita saya akhirnya melanjutkan studi ke Taiwan dan sebelum berangkat, orang tua sudah memberikan peringatan:

Me, jangan sampai pindah Kristen”, “Me, di Taiwan jangan ke gereja.”

Kata-kata itu terngiang di pikiran ketika saya sampai di Taiwan. Namun dalam hati, saya merasakan dorongan yang kuat untuk ke gereja. Akhirnya saya menemukan gereja POKI dan tertanam serta bertumbuh hingga hari ini disini. Setahun pertama, saya masih tidak berani mengaku kepada orang tua bahwa saya ke gereja. Mungkin karena saya anak bungsu, setiap hari mama selalu telepon, bahkan di hari Minggu, dan setiap hari Minggu saya berbohong tentang pergi ke gereja karena takut mereka kecewa. Sampai satu waktu, saya dinasehati teman saya bahwa hal yang saya lakukan tidak benar dan malahan kalau mereka mengetahui saya bohong, bukankah mereka akan lebih kecewa lagi.

Akhirnya, saya bertekad untuk mengaku ke mama ketika pulang ke Indonesia ketika liburan sekolah dan dalam kurun waktu satu semester, setiap harinya saya berdoa untuk hati papa dan mama agar dilembutkan oleh Tuhan. Satu waku ketika saya sedang sendirian dengan mama, saya mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan bahwa saya ada ke gereja di Taiwan.

Ini loh Ma, foto bareng temen-temen yang sering aku kirimin ini mereka anak-anak gereja, aku di Taiwan nyoba ke gereja sih Ma, aku kok merasa cocok ya Ma ke gereja,” ucapku.

Saya benar-benar merasakan campur tangan Tuhan waktu itu. Biasanya ketika ada perihal gereja yang diungkit, respon mama akan tidak senang dan cenderung marah. Namun hari itu mama menjawab dengan lembut: “kok isa ke gereja.

Kemudian mama menyarankan agar saya berpindah ke Katolik saja, karena mama merasa Katolik masih lebih netral dan diperbolehkan memegang dupa.

Tapi gimana ya ma beda, aku pribadi lebih bertumbuhnya di Kristen,” ujarku.

Ya mama gapapa, pokoknya mama pesen jangan dibaptis dulu. Tar kalo jodohmu bukan Kristen, nanti repot lagi nikahnya,” jawab mama.

Walau ada larangan agar saya jangan bapis dulu, setidaknya saya merasa lega dan tidak usah berbohong lagi mengenai pertemuan-pertemuan di gereja.

Setelah itu, akhirnya setiap teleponan dengan mama, saya berani menyebut kata gereja dan lama kelamaan mama juga sudah terbiasa. Ironisnya, ketika ada satu waktu saya pulang ke Indonesia lagi, saat itu ada acara sembahyangan keluarga. Mama membela saya dan mengatakan bahwa saya tidak perlu ikut sembahyang. Walau mereka masih merasa kaget ketika liburan di Indonesia itu saya ke gereja di hari Minggunya. Mungkin mereka berpikir saya hanya ke gereja di Taiwan saja. Namun saya sungguh-sungguh ingin mereka tahu bahwa saya serius dengan keyakinan saya ini.

Bulan April 2017 ini, bertepatan dengan acara paskah gereja POKI, akhirnya saya dibaptis. Ini keputusan yang tidak mudah juga setelah saya maju mudur berkali-kali karena mempertimbangkan pesan mama. Menjelang paskah tahun ini akhirnya saya mengajukan keinginan untuk baptis lewat telepon. Respon mama waktu itu sangat berat hati dan meminta saya untuk menunda. Mama merasa sangat sedih, sampai dia memutuskan telepon saya dan menghubungi cece saya dan meminta agar cece membujuk saya untuk tidak terburu-buru dibaptis dan menunda keputusan ini.

Pesan saya untuk teman-teman yang menghadapi situasi yang serupa dengan saya ketika itu adalah bahwa orang tua akan selalu mengasihi kita apa adanya karena siapa kita, for who we are, bukan karena apa yang kita perbuat dan tidak perbuat untuk mereka. Saya percaya ketika saya memutuskan untuk dibaptis, bukan karena saya kurang menghormati orang tua saya, tetapi saya sangat mengasihi mereka sehingga saya ingin berdiri di depan dan membuka pintu terlebih dahulu agar keluarga saya dapat menerima Tuhan. Saya berpikir waktu itu mungkin saya hanya bisa melihat sejauh 500 meter ke depan, yaitu ketakutan dan kekecewaan orang tua saya kalau saya dibaptis. Namun Tuhan sudah melihat 500 kilometer lebih jauh ke depan bahwa Dia akan membawa pembaharuan bagi keluarga saya. Dia mau mengerjakan banyak hal-hal baru yang tidak bisa bisa dilihat dari tempat saya berdiri saat itu.

Berikan dirimu kesempatan yang orang lain tidak akan dapat berikan kepadamu. Kalo hari ini Tuhan mengetuk pintu hatimu, jangan ragu, ambil komitmen untuk say Yes ke Tuhan. Klaimkan iman dan keyakinanmu kepada Yesus Kristus.

Satu hal yang saya sadari ketika saya dibaptis, bahwa apa yang mau Tuhan berikan itu ternyata lebih dari berkat keselamatan, yaitu ada Roh yang memerdekakan kita dari setiap belenggu yang selama ini mengikat kita, pikiran-pikiran manusia yang membatasi kita, ketakutan, kekuatiran, tekanan kita, atau apapun yang menahan diri kita, Tuhan mau memberikan kepada kita kemerdekaan dan kemenangan atas semuanya itu. Kita hanya perlu menyerahkan sepenuhnya otoritas atas hidup kita kepada Dia! Tuhan Yesus memberkati!FullSizeRender (1)

Kesaksian oleh Sdri. Meiliana Sutanto

CG NTUST

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: