Jesus is more than enough for me

IMG_2049
Sdri Jane didoakan oleh Ps. Meien dan Gembala area keluarga sdri Molis

Saya mau bersaksi tentang pekerjaan Tuhan yang luar biasa dalam hidup saya dimana bagi saya bersaksi bagi Tuhan itu harus dilakukan setiap saat. Pada sekitar bulan November 2016, saya mendapati adanya kelenjar di bagian ketiak, saya juga sering merasa pegal-pegal, jadi saya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, spesialis payudara. Melalui pemeriksaan tersebut, dokter mendapati ada benjolan di bagian payudara. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi pengambilan sampel, memastikan apakah benjolan tersebut  tumor ganas atau jinak. Sepanjang proses operasi pengambilan sampel, saya terus menaikkan pujian tanpa bersuara, tujuannya agar saya hanya fokus kepada pujian saja dan tidak fokus dengan operasi. Operasi berjalan dengan lancar, dan saya harus menunggu 1 minggu sampai hasil diagnosa sampel keluar.

Di hari Senin minggu berikutnya, saya bersama suami kembali menemui dokter untuk melihat hasil diagnosa sampel sebelumnya. Dokter menerangkan bahwa tumor ini adalah tumor yang tidak baik, disebut juga sebagai kanker payudara. Selain itu, posisi tumor ini berada di tempat yang sangat berbahaya, dokter menyarankan untuk mengeluarkan tumor ini agar tidak menyebar ke tempat yang lain, dengan kata lain saya akan mengalami resiko kehilangan sebelah payudara. Saat itu juga saya kehabisan kata-kata, suami saya hanya memegang tangan saya. Kemudian, ada 1 suster yang mengantarkan kami ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut, suster menjelaskan mengenai kanker secara garis besar dan bagaimana cara penanganannya. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke rumah.

Sepanjang minggu itu saya seakan-akan tidak dapat berpikir dengan jernih, seakan-akan sedang menjalani sebuah mimpi. Namun saya tidak mengeluh, saya hanya diam saja sambil berdoa dan membaca firman Tuhan seperti biasa, pergi ke gereja, bertemu dengan anak-anak. Namun di saat saya sendirian, saya hanya dapat mengutarakan perasaan saya dalam bentuk tangisan. Suami saya menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter yang lain. Pada tanggal 23 Desember 2016, saya ditemani oleh teman saya, Susanti, ke sebuah rumah sakit yang lain. Dalam hati saya berharap bahwa dokter ini akan memberikan jawaban yang dapat membuat saya lega dibanding dokter sebelumnya. Namun pernyataan dokter tidak sesuai harapan saya, dokter tersebut juga sependapat dengan hasil diagnosa dokter sebelumnya, yakni saya positif mengidap kanker payudara. Susanti menyarankan agar saya tetap melakukan pengobatan di dokter sebelumnya, karena memang dari awal sudah ditangani oleh dokter tersebut.

25 Desember 2016 adalah hari perayaan Natal di gereja. Saya tetap beribadah, dan hari itu ramai sekali. Saya mulai bergumul dengan Tuhan, saya mengutarakan isi hati saya kepada Tuhan: “Ini natalan lho Tuhan, akhir tahun lho Tuhan.” Biasanya saya selalui melalui Natal dan akhir tahun dengan hati yang gembira, namun di ibadah Natal tahun ini saya hanya bisa terduduk di barisan belakang. “Kok hadiah Natal tahun ini begini, apakah ini hadiah Natal saya?” Setelah itu saya kembali terdiam, saya ikuti jalannya ibadah natal. Pada hari itu, Ps. Meien menyampaikan khotbah tentang 3 kado Natal, saya agak lupa 2 poin pertama, saya hanya ingat poin ke-3, yaitu tentang iman. Poin ini sangat menusuk hati saya, saya seperti mendapat kekuatan baru, dan saya berdoa kepada Tuhan, “Kado saya bukan kanker payudara, kado saya adalah iman. Ini adalah kado saya.” Di hari yang bersamaan, saya melihat teman saya Ko Ricky dibaptis. Pada waktu Ko Ricky dibaptis, tiba-tiba dari dalam hati saya muncul sebuah sukacita dan semangat yang baru. Di sini saya merasakan kalau Tuhan sangat sayang kepada kita semua. Dia sepertinya mengerti keadaan saya saat itu di mana Tuhan memberikan berkat ini kepada saya. Kita harus menangkap berkat yang diberikan oleh Tuhan. Hari itu juga, iman menjadi rhema bagi saya dan saya akan membawa iman ini ke ruang operasi.

Satu hari sebelum hari operasi, saya diminta tinggal di rumah sakit untuk melalui pemeriksaan dan beristirahat. Keesokan harinya, dokter menjelaskan secara detail hal-hal yang harus diperhatikan, namun saya kesulitan untuk fokus mendengarkan penjelasan dokter. Saya berpikir: “Yang penting dijalanin saja.” Waktu operasi di hari itu adalah pukul 2 sore. Susanti chat saya dan bilang bahwa mereka mau datang ke rumah sakit untuk mendoakan saya. Namun Ps. Meien, Susanti, dan Ci Meiphing masih belum tiba ketika saya sudah dipangil masuk ke ruang operasi. Saya memutuskan untuk tetap menunggu mereka, karena saya ingin mereka mendoakan saya terlebih dahulu sebelum saya dioperasi. Saya percaya kuasa doa itu dahsyat. Dikarenakan suster sudah mendesak saya untuk segera menuju ruang operasi, saya akhirnya beranjak dari kamar pasien menuju ruang operasi. Saya berusaha berjalan sepelan mungkin sambil berharap ketiga teman saya segera tiba dan mendoakan saya. Di tengah perjalanan saya menuju ruang operasi, saya melihat Ps. Meien, Susanti dan Ci Meiphing datang. Mereka menemani saya menuju ruang operasi dan mendoakan saya di dalam ruang operasi. Ketika didoakan, saya membawa satu hati yang percaya bahwa Yesus menyertai saya, dan saat itu saya merasakan sekali damai yang dicurahkan oleh Tuhan, padahal operasi ini termasuk operasi besar, namun saya tenang sekali, tidak takut, bahkan tidak gemetar sama sekali.

Operasi berjalan dengan lancar dan setelah saya diantar kembali ke kamar pasien, saya bertemu dengan 2 orang wanita yang juga hendak menjalani operasi di dalam kamar. Salah satu dari mereka akan menjalani operasi telinga dan yang lain operasi darah tinggi. Di saat itu saya menghibur mereka supaya jangan khawatir. Saya malah menguatkan mereka memberitahu mereka agar berdoa kepada Yesus. Kedua ibu tersebut merasa dikuatkan dan berterima kasih kepada saya.

Keesokan harinya, dokter datang ke kamar untuk menyampaikan hasil operasi. Dokter menjelaskan bahwa kanker saya tidak menyebar ke mana-mana. Kedua wanita yang sekamar dengan saya langsung menghampiri dan memeluk saya, kemudian mereka berkata, “Tuhan kamu benar-benar menyertai kamu.” Saat itu juga saya sampaikan kepada mereka bahwa Tuhan itu lebih besar dari yang saya alami. Jesus is more than enough for me.

Kesaksian oleh Saudari Jane

IMG_2050
Sukacita yang tampak ketika sdri. Jane menyaksikan  kebesaran Tuhan

 

Tuhan Yesus mengasihi Anda 🙂 Dia tidak pernah meninggalkan Anda sendiri! Apabila Anda butuh layanan doa / konsultasi, silahkan tinggalkan pesan pada kolom comment di bawah ini atau hubungi kami di 02-2362-3022 #8232~ Tuhan Yesus memberkati!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: