Hati Anak Bangsa

IMG_4851.jpg
Bersama seluruh peserta seminar

Tanggal 21 Mei 2017 kemarin Pelita mengadakan seminar ‘Hati Anak Bangsa’ dengan menghadirkan Henny Kristianus. Perempuan hebat ini mengikuti panggilan jiwanya untuk menolong anak-anak di daerah pedalaman. Sejak tahun 2007 ia mendirikan Yayasan Tangan Pengharapan. Ibu tiga anak ini berkomitmen terus menjelajahi pelosok Tanah Air dan memberikan kontribusi di bidang pendidikan, kesehatan, serta ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang membutuhkan.

DSC09644
Suasana sepanjang seminar berlangsung

Bermula sejak kepulangannya ke Tanah Air pada tanggal 26 Januari 2006. Sebelumnya, ia telah menikah dan menetap di Australia. Saat itu ia minta izin ke suaminya, Yohanes Kristianus, ingin beristirahat selama 2 bulan dan pulang ke Indonesia pasca melahirkan kedua anak kembarnya, Chloe Kristianus dan Zoe Kristianus. Saat itu kedua anaknya baru berusia 4 bulan. Sang suami pun setuju bahkan ikut mengantarnya ke Indonesia. Namun selama di Indonesia, dia melihat semakin banyak orang-orang miskin terutama yang meminta-minta di jalanan kota Jakarta, 10 tahun dia tinggal di Australia banyak sekali perubahan yang terjadi di Jakarta, suara hatinya seperti menyuruh Henny untuk berbuat sesuatu bagi negri ini. Setelah dua bulan berlalu, suaminya yang tetap berada di Australia karena mengurusi bisnisnya di sana pun, datang menjemput. Saat itu juga, Henny menyampaikan niatnya untuk tetap tinggal di Indonesia. Keputusan yang dianggapnya cukup ‘gila’ mengingat di Australia ia dan suami sudah mendapatkan Permanent Residence. Kehidupan mereka di Australia pun terbilang mapan, memiliki rumah, bisnis yang bagus, pun semua keluarga besarnya juga berada di sana. Sementara jika ia tetap tinggal di Indonesia berarti harus memulai semuanya dari nol. Setelah melalui berbagai doa dan pergumulan sang suami akhirnya menyetujui keputusannya.

 

Tak lama setelah itu, suaminya mendapatkan tawaran pekerjaan dari seorang pengusaha yang mereka kenal di Sydney, untuk membantu salah satu gereja di kota Bandung, karena gereja itu kurang berkembang. Henny pun merasa ini jalan yang ditunjukkan Tuhan saat dirinya dan suami memutuskan kembali tinggal di Indonesia. Mereka berdua langsung berangkat ke Bandung. Tapi, saat sampai di pintu Tol Pasteur, Bandung, pandangan Henny tertumpu pada seorang anak kecil yang digendong dan meminta-minta di jalanan dalam kondisi hujan. Ia tak habis pikir, demi untuk mendapatkan uang ada orang-orang dewasa yang sampai rela mengorbankan anak kecil. Seketika ia pun menangis. Walau ia mengerti memang banyak orang miskin di Indonesia, tapi ia tidak bisa mengerti mengapa ada orang yang tega mengorbankan anaknya. Henny pun terus memikirkan hal itu.

 

Tak hanya itu, setelahnya masih ada lagi kejadian yang semakin membuatnya memutuskan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Saat di Bandung ia diberi tempat tinggal di sebuah bangunan ruko di pemukiman yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah. Ia melihat banyak anak-anak yang bekerja sebagai pemulung di sana. Mereka juga kerap bermain di depan ruko sampai malam, tanpa ingat waktu. Aktivitas mereka pun kerap mengganggu dirinya yang tinggal di ruko. Suatu hari, ketika ia ingin memarahi mereka, tiba-tiba suara hatinya mengatakan untuk ‘jangan marah dan coba membangun hubungan’. Akhirnya, ketika membuka pintu, Henny pun hanya bertanya mengapa anak-anak itu tidak sekolah. Mereka menjawab karena tidak punya biaya. Spontan, Henny langsung menawarkan mereka mengajari bahasa Inggris. Mereka menerimanya dengan senang. Akhirnya, ia pun membuka pintu tempat tinggalnya lebar-lebar dan mempersilahkan lima anak untuk belajar bahasa Inggris di ruang makan. Dari lima anak itu, lalu jumlahnya kemudian berkembang menjadi delapan, lalu sepuluh, hingga lima belas anak. Tak lama, ada pula panti rehabilitasi di Lembang yang memintanya mengajarkan bahasa Inggris kepada para staf. Henny menerimanya dengan senang hati, dan semuanya ia lakukan secara cuma-cuma.

 

Dari kegiatan itu, Henny seperti menemukan jawaban, bahwa yang paling dibutuhkan orang miskin adalah keluar dari kemiskinan. Dan ia harus bisa membantu mereka untuk keluar dari kemiskinan itu, dengan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan membuat taraf hidup mereka meningkat. Inilah sepertinya yang menjadi tujuan utamanya saat merasa harus pulang ke Indonesia. Sejak itu, setiap kali suaminya mendapatkan penghasilan, rutin 30% ia belikan sembako dan membagikan kepada masyarakat tidak mampu agar mereka bisa makan. Singkat cerita, pengusaha yang memperkerjakan mereka kemudian menawarkan agar kembali ke Australia untuk membantu seorang pendeta yang akan membuka gereja. Saat itu mereka ditawari gaji 4000 USD plus rumah dan mobil. Tapi Henny dan suami menolak dan memilih kembali pulang ke Jakarta. Untungnya tak lama Henny ditawari bekerja di sebuah perusahaan yang ingin membuka cabang di Jakarta. Karena mengetahui passion-nya adalah membantu anak-anak tidak mampu, perusahaan itu pun akhirnya ikut membantu memberikan dana meskipun tidak utuh.

 

Sejak awal Yayasan Tangan Pengharapan berdiri, awalnya ia dibantu oleh keluarga, kemudian teman-teman. Sejak awal berdiri karena tidak ingin donasi masuk ke rekening pribadi, maka ia sudah membuat rekening khusus yang bisa diaudit, sehingga semuanya berjalan transparan. Pelan-pelan, dari sedikit dana yang masuk lama-lama semakin besar. Bahkan 60% donatur yang dimiliki Henny tak mengenalnya sama sekali karena ia memang tidak pernah menyebarkan brosur. Dari sinilah, Henny mulai membuat program untuk Yayasan Tangan Pengharapan.

 

Di Jakarta ia membuka 8 feeding center, memberi makanan gratis dan bimbingan belajar gratis. Bulan Oktober 2007, ada 1.028 anak yang dilayani. Namun, pada bulan Maret 2008, program itu ia hentikan karena ternyata ia mendapati bahwa anak-anak jalanan itu sebetulnya tidak butuh makan gratis. Karena ternyata mereka bisa dengan mudah mendapatkan uang Rp 25.000-Rp 30.000 per harinya. Inilah yang membuat mereka tidak mau sekolah dan banyak orangtuanya yang menyuruh anak-anak itu tetap di jalanan karena lebih menguntungkan daripada belajar. Karena putus asa dan kesal, Henny pun pergi ke daerah pelosok yang minim bantuan. Sejak 2008, ia pergi dari satu pulau ke pulau lain untuk misi kemanusiaan. Dari Jawa Tengah, Halmahera, NTT, Papua, Mentawai, Kalimantan Barat, dan terus menjelajahi pelosok Indonesia. Ada beberapa program yang ia buat, antara lain Feeding and Learning Center, yaitu program pemberian makanan bergizi, pemberian pendidikan dan sarananya, sampai keterampilan untuk masa depan yang lebih baik. Selain itu Henny juga membangun Children Resque Home yaitu asrama untuk anak-anak korban tindak kekerasan, anak-anak kurang mampu yang berprestasi, anak yatim piatu dan anak pedalaman yang tak memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan. Juga ada program kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan operasi katarak gratis, serta klinik mobil.

 

Beruntungnya, semua kegiatan itu berkembang dan berjalan dengan baik. Henny berusaha menjawab semua permasalahan dan kebutuhan daerah-daerah pelosok tersebut. Misalnya dengan memberikan modal usaha tanpa bunga, life training center atau program pelatihan singkat untuk mengajarkan berbagai keahlian. Ada juga pembangunan rumah sehat, pembangunan fasilitas MCK umum dan pengadaan air bersih, pelatihan tanggap bencana, hingga sponsorship guru pedalaman. Project terbanyak berada di NTT karena daerah di sana memang masih banyak yang miskin dan butuh bantuan. Satu hal yang selalu Henny tekankan untuk setiap anak-anak didiknya adalah untuk kembali dan mengingat kampung halamannya ketika mereka sudah dewasa nanti, kembali membangun kampung halaman mereka masing-masing dan juga menjadi berkat untuk orang lain yang membutuhkan.

 

Pada seminar kali ini kak Henny juga berpesan dan mengajak teman-teman setanah air yang berdiaspora di Taiwan untuk berpartisipasi membangun bangsa, juga mulai membangun diri, sebaik mungkin menabung untuk mempersiapkan masa depan. Tangan pengharapan juga membuka kesempatan bagi teman-teman untuk direkrut menjadi relawan dalam berbagai tenaga ahli dan menjadi guru di rumah-rumah belajar yayasan di seluruh pelosok Indonesia. Bagaimana? Ayo sama-sama kerahkan setiap apa yang kita punya untuk membangun bangsa!

IMG_4885.jpg
Foto bersama para sahabat BMI yang ada di Taiwan
IMG_4868.jpg
Foto bersama para sponsor dan tamu VIP

 

Ditulis oleh: Aileen Yap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: