Testimony: God is good

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu
Rasakan dan nikmati kasih setia Tuhan.”


Berbicara tentang kebaikan Tuhan pasti tidak lepas dari kesetiaan Tuhan. Itulah yang dilantunkan oleh pemazmur, raja Daud yang berkenan di hati Tuhan. Saya percaya kebaikan dan kesetiaan Tuhan tidak hanya dikecap dan dinikmati oleh raja Daud saja pada zaman dahulu. Karena kasih dan kesetiaan Tuhan tidak akan pernah berubah dari dahulu, sekarang hingga selamanya, maka kita pun saat ini bisa mengecap, menikmati dan bahkan anak-anak sampai cucu kita pun pasti bisa mengecap kebaikan Tuhan.

Seringkali saya berpikir bahwa kebaikan Tuhan lebih sering kita lihat dari kesaksian hidup orang lain, bagaimana karya Tuhan begitu luar biasa dalam hidup seorang dan membuat orang-orang bahkan saya sendiripun merasa iri dan berdecak kagum sampai-sampai sering membuat saya menyimpulkan bahwa harus yang “Wahhh!!!” baru bisa dinamakan kebaikan Tuhan.

Namun sampai pada suatu kejadian dimana Tuhan mengajarkan saya secara pribadi bagaimana mengecap, melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan itu begitu simple dan nyata. Lewat kejadian ini Tuhan begitu sabar dan tidak pernah menyerah terus mengajarkan bagaimana cara untuk mengecap dan melihat betapa Tuhan itu baik dan setia dalam hidup saya.

Berawal dari hasil dokter yang menyatakan saya positif hamil, dari sana pun saya melihat bahwa Tuhan baik, dengan cepat memberikan warisan Ilahi kepada keluarga kecil kami. Tapi bagi saya yang pertama kalinya merasakan kebahagiaan ini, saya juga tahu bahwa DNA dari mama saya, ada proses morning sickness yang ternyata begitu berat (setidaknya bagi saya terasa berat) yang harus dilalui. Jadi saudara, terlepas dari rasa senang yang saya rasakan, saya pun harus siap untuk merasakan bagaimana rasanya morning sickness yang membuat saya pada 3 bulan pertama seperti tidak ada harapan untuk hari-hari kedepan.

Suatu hari saya bangun dengan keadaan perut dan perasaan yang sangat tidak enak, mual dan pusing bahkan rasanya pengen muntah jika mencium bau apapun (dan ini tidak pernah saya rasakan sebelumnya). Sampai bau parfum yang biasa saya sukapun, jadi tidak suka. Dan ketika keluar kamar mencium wangi-wangian dalam rumah, sesekali tercium bau minyak goreng dari luar, membuat saya tidak tahan dan mau muntah rasanya. Dan apapun yang saya makan, dengan segera bisa dikeluarkan (dimuntahkan-red) tanpa diperintahkan. Saya mengeluarkan (memuntahkan) tiap apapun yang masuk kedalam perut saya, dalam sehari setidaknya tiga sampai empat kali.

Hari-hari itu terasa berat dan membuat saya jadi putus harapan dan tidak ada niat untuk makan. Bahkan membuat saya pada akhirnya harus berhenti bekerja, karena dalam perjalanan selain tidak bisa mencium bau-bau (bau dalam bus, makanan, asap, sabun cuci piring jika di kantor, pewangi ruangan dan segala macam bau yang bisa terpikirkan). Saya jadi mulai mengeluh kepada Tuhan dan pesimis dengan keadaan ini, mengapa begitu berat untuk dilewati. Saya berdoa pun seakan-akan Tuhan tidak mendengar dan menjawab doa saya. Setiap hari rasanya seperti menghitung waktu kapan semua ini akan berlalu. Saya ingat tidak banyak yang bisa saya lakukan saat itu kecuali jadi mudah pasrah dan jadi sering menangisi keadaan saya sambil mengeluh karena tidak bisa menerima keadaan ini. Sangat berat, saya jadi tidak bisa memakan makanan kesukaan saya, dan karena pusing dan perasaan mual itu sangat tidak enak, membuat saya tidak bisa mengerjakan banyak hal yang biasa saya kerjakan. Jujur dalam keadaan itu, saya jadi lupa dengan apa yang namanya mengecap dan melihat kebaikan Tuhan. Dan yang saya inginkan saat itu adalah hanya mau instant semua bisa berlalu dengan cepat. Banyak sharing dari teman-teman seimanpun yang mengalami hal yang sama , termasuk perhatian suami dan keluarga, tetap saja bagi saya seakan-akan hanya penghiburan sementara, karena perasaan mual yang harus saya hadapi tetap ada dan sangat tidak nyaman bagi saya. Sampai akhirnya saya menyimpulkan bahwa saya benar-benar hopeless dan down dengan keadaan saya, perubahan yang membuat saya begitu sensitif.

Seiring dengan waktu berjalan, kira-kira masuk bulan kedua kehamilan, ketika saya beristirahat dan berusaha menenangkan hati dan berusaha tidak terlalu memikirkan perasaan mual itu (seperti yang disarankan teman- teman seiman), Tuhan mengingatkan FirmanNya yang mengatakan, bahwa keadaan yang saya alami saat ini, tidak akan melebihi kekuatan saya dan Tuhan dengan jelas berkata jangan takut, jangan kuatir karena kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Tapi saat itu dalam hati kecil saya hanya meresponi Tuhan dengan, kesusahan yang sama akan saya hadapi dan tetap itu tidak enak rasanya (ini sikap hati yang salah, karena sambil mengeluh dan memilih tidak percaya kepada kuasa Firman Tuhan). Tuhan kita memang Tuhan yang panjang sabar dan tidak pernah menyerah akan hidup kita. Hari esoknya Tuhan mengingatkan lagi di FirmanNya dalam Roma 5:2-5, intisarinya untuk saya saat itu adalah tahan uji menimbulkan pengharapan, dan pengharapan dalam Tuhan tidak mengecewakan. Dan Tuhan menghibur juga lewat FirmanNya yang berkata hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi tulang yang kering mematahkan semangat. Ketiga Firman itu, coba saya terapkan selama saya melewati situasi yang begitu berat. Setiap hari saya belajar mengclaimkan Firman Tuhan itu dan terbukti menjadi kekuatan yang nyata. Walaupun morning sickness itu selama tiga bulan belum berlalu, tapi mulai terasa ringan karena Firman Tuhan yang menjadi kekuatan saya dan ketika saya pelan-pelan mulai berserah dan mengandalkan Tuhan, saya mulai bisa melihat dan mengecap kebaikan Tuhan, lewat dukungan dan doa dari suami, keluarga dan teman-teman seiman yang Tuhan taruh di sekeliling saya. Selama morning sickness ini, karena hanya bisa makan beberapa jenis makanan, itupun sudah membuat berat badan saya turun drastis, tapi Puji Tuhan karena Tuhan masih menjaga perkembangan baby dalam perut.

Memasuki awal tahun 2017, di awal tahun saya bangun dengan perasaan tidak mual lagi. saya benar-benar kaget dan terharu saat itu. Tuhan begitu baik dan benar-benar menjawab doa saya agar morning sickness ini tidak terlalu lama.

Pelajaran bagi saya saat itu bukan hanya jika Tuhan menjawab doa baru bisa dikatakan Tuhan baik, baru mengecap kebaikan Tuhan. Tapi sekalipun Tuhan belum menjawab doa saya, Tuhan tetap menunjukkan kebaikan kasihNya. Hanya saja saat itu secara tidak sadar saya sudah kalah (pasrah) dengan keadaan saya, saya lebih sering mengeluh dan hanya mau yang instant. Sejak saat itupun, saya mulai belajar bersyukur setiap hari, bersyukur sekalipun keadaan sulit belum berubah. Dan Tuhan mengajarkan untuk tetap fokus pada kebaikan, kebesaran Tuhan, bukan fokus pada masalah atau pergumulan yang dihadapi.

Hari ini saya bisa menyaksikan perkembangan baby yang sehat pun semua karena kebaikan dan kesetiaan Tuhan. Entah apapun pergumulan kedepannya, biarlah kesetiaan dan kebaikan Tuhan yang selalu kita ingat. Ada pula pujian yang mengingatkan kita, bahwa kita jangan pernah lupa akan kasih Tuhan, ingat kebaikan Tuhan. Mari kita setiap hari terus mengecap dan melihat kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan kita selalu bawa sikap hati yang bersyukur. Fokus pada Tuhan. Amin.

Tuhan berkati!

 

Tuhan Yesus mengasihi Anda 🙂 Dia tidak pernah meninggalkan Anda sendiri! Apabila Anda butuh layanan doa / konsultasi, silahkan tinggalkan pesan pada kolom comment di bawah ini atau hubungi kami di 02-2362-3022 #8232~ Tuhan Yesus memberkati!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: